Category Archives: Blog

  • 3

Senyum ceria bayi sehat bersama Ougi Detergent

Dear Mom’s – Mom’s Indonesia

Mom’s permasalahan anak sekarang ini sangatlah krusial, terlalu banyak permasalahan yang harus di urus sendiri. Apalagi berkaitan si anak yagn suka mainan outdoor bahkan suka makan sendiri tapi nempel kemana-mana apalagi sampai nempel de pakaian si anak. Ini yang terkadang membuat Moms gemes sendiri, pakaian cepat kotor dan bernoda sehingga sudah untuk dibersihkan.

Terkadang mom’s merasa noda ini bandel bahkan mom’s bingung mau pakai detergent yang pas untuk kulit si anak, salah-salah noda hilang tapi kulit si anak tidak cocok dengan karakter si detergent tersebut. Jangan kuwatir mom’s di sini penulis akan membagikan  tips atau bahkan informasi tentang detergent yang pas untuk si anak, dijamin bagus dan cocok untuk si anak dan agar si anak bisa senyum ceria bayi sehat bersama ougi detergent

Kini sudah hadir loh mom’s Ougi Detergent, detergent pakaian yang dibuat khusus untuk membersihkan pakaian bayi. Ougi Detergent diproses dengan mesin modern dan higenis sehingga menghasilkan produk detergent bayi yang berkualitas dan aman bagi kulit bayi, terutama bayi dengan kulit yang sangat sensitif dan tentunya tag line kita adalah senyum ceria bayi sehat bersama ougi detergent.

Berikut penulis akan membagi keunggulan-keunggulan yang ada pada Ougi Detergent, disimak dengan baik yah mom’s jangan sampai terlewatkan kata perkata nya yah….senyum ceria bayi sehat bersama ougi detergent

1. Ougi Detergent Anti Iritasi

Mom’s kini jangan kuatir tentang kulit sesnsitif si anak, biarkan anak berkembang sesuai pola pikirnya, biarkan si anak bisa berimajinasi dengan baik agar otak anak maksimal nantinya.
Seperti yang sudah penulis jelaskan sebelumnya, bahwa Ougi Detergent merupakan Deterjen Anti Iritasi, karena di proses dengan mesin modern dan higenis, sehinga pakaian yang telah dicuci dengan Ougi Detergent bisa bersih dan aman terhadap kulit bayi yang masih sensitif. Ingat yah tag line kita adalah senyum ceria bayi sehat bersama ougi detergent.

Senyum ceria bayi sehat bersama Ougi Detergent

Senyum ceria bayi sehat bersama Ougi Detergent

2. Ougi Detergent Anti Bakteri

Mom’s keunggulan Ougi Detergent Anti Bakteri yang mencegah bayi iritasi
Detergent Anti Bakteri yang mencegah bayi iritasi
Ougi Detergent ini deterjen yang Anti Bakteri, karena mengandung Anti bacterial yang membantu melindungi terhadap penyebaran bakteri yang berbahaya. Nah, Ougi Detergent ini sangat cocok untuk membersihkan pakaian bayi anda, karena kandungan anti bacterial yang melindungi pakaian bayi dari penyebaran bakteri yang sangat berbahaya. Jadi tenang moms biarkan bayi berembang dan tetap di jaga cara bermainnya. Masih ingat apa tag line nya ? senyum ceria bayi sehat bersama ougi detergent.

3. Ougi Detergent Menghasilkan Busa Minimal

Mom’s kali ini penulis sampai heran karena baru kali ini ada detergent yang menghasilkan busa yang sangat minim, tentunya bukan yang lain yah mom’s,
Ougi Detergent memiliki busa minimal, tanpa harus membuat capek mom’s untuk mencuci pakaian si bayi
Ougi Detergent tidak mengandung Sodium Lauryl Sulfate, Sehinga mom’s saat mencuci pakaian bayi nya bisa lebih gampang karena Busa Minimal atau busa yang sedikit. Terkadang mom’s itu malas ketika mencuci tapi busanya banyak, yang membuat mencuci menjadi lebih lama.

Senyum ceria bayi sehat bersama Ougi Detergent

Senyum ceria bayi sehat bersama Ougi Detergent

4. Ougi Detergent Memiliki Wangi  Natural

Mom’s pastinya sudah tertarik dengan artikel yang penulis tulis di atas yah… Tengan mom’s masih ada lagi keunggulan yang dimiliki Ougi Detergent. Ougi detergent memiliki wangi yang natural, anak bisa ceria pakaian si anak memiliki wangi yang Natural. Mom’s pasti ikut ceria melihat si anak bisa tertawa atau tersenyum dengan lepas tanpa ada bau pada pakaiannya. Anak ceria mom’s pun ikutan bahagia.

Senyum ceria bayi sehat bersama Ougi Detergent

Senyum ceria bayi sehat bersama Ougi Detergent

Mom’s gimana ceria kan? sekarang sudah ada detergent yang bisa mengatasi permasalahan yang krusial tentang anak. Ougi Detergent lah solusi bagi para mom’s seluruh Indonesia, senyum ceria bayi sehat bersama ougi detergent. Itu yang bisa penulis bagikan semoga bisa menebar manfaat bagi Mom’s semuanya, tetap menjaga kesehatan si anak yah jangan pilih-pilih detergent yang lain selain Ougi Detergent. Buah hati adalah titipan dari Alloh, menjadi amanah dan semoga anak kita menjadi soleh dan solehah yang kelak akan memdoakan kita selalu. Aamiin

 

 


  • 0

24 Jam di Bulan Ramadhan (Aktivitas Ashar)

Category : Blog

23- Menyiapkan makan berbuka puasa. Suami berusaha membantu pekerjaan istri di rumah.

Membantu pekerjaan istri di rumah termasuk bentuk berbuat baik dari suami pada istri dan menunjukkan keluhuran akhlak suami.

Coba lihat bagaimanakah contoh dari suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berada di rumah.

عَنِ الأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصْنَعُ فِى أَهْلِهِ قَالَتْ كَانَ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ

Dari Al-Aswad, ia bertanya pada ‘Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari, no. 6039)

Ingatlah suami yang paling baik adalah suami yang paling baik pada istri, anak dan keluarganya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. Aku sendiri adalah orang yang paling baik pada keluargaku.” (HR. Tirmidzi, no. 3895. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

Baca selengkapnya di sini:

 

24- Melaksanakan shalat sunnah qabliyah Ashar dua atau empat rakaat.

Adapun dibolehkan shalat qabliyah ‘Ashar dua raka’at adalah berdasarkan riwayat dari Ummu Salamah, ia menyatakan,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْعَصْرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan dua raka’at qabliyah ‘Ashar. ” (HR. An-Nasa’i, no. 581 dan Ahmad, 6: 306. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Secara tekstual yang dimaksud hadits di atas, shalat qabliyah ‘Ashar adalah dua raka’at. Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 110.

Alasan lainnya yang menunjukkan qabliyah ‘Ashar adalah dua raka’at sebagaimana hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ – ثُمَّ قَالَ فِى الثَّالِثَةِ – لِمَنْ شَاءَ »

Dari ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara dua azan (azan dan iqamah) ada shalat, antara dua azan ada shalat, -kemudian disebutkan yang ketiga kalinya-, bagi siapa yang mau.” (HR. Bukhari, no. 627  dan Muslim, no. 838)

Adapun dalil yang menunjukkan shalat sunnah qabliyah ‘Ashar itu empat raka’at adalah hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat qabliyah ‘Ashar sebanyak empat raka’at.” (HR. Abu Daud, no. 1271 dan Tirmidzi, no. 430. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

 

Tentang shalat sunnah qabliyah Ashar, diharapkan membaca dua artikel berikut:

 

 

25- Dilarang melakukan shalat Sunnah setelah Shalat ‘Ashar.

Para ulama menyatakan terlarangnya shalat setelah ‘Ashar sampai tenggelamnya matahari dan setelah Shubuh sampai matahari meninggi.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ

Tidak ada shalat setelah shalat Shubuh sampai matahari meninggi dan tidak ada shalat setelah shalat ‘Ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Bukhari, no. 586 dan Muslim, no. 827)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّىَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau untuk menguburkan orang yang mati di antara kami yaitu: (1) ketika matahari terbit (menyembur) sampai meninggi, (2) ketika matahari di atas kepala hingga tergelincir ke barat, (3) ketika matahari  akan tenggelam hingga tenggelam sempurna.”  (HR. Muslim, no. 831)

 

Kesimpulannya, waktu terlarang untuk shalat ada lima:

  • Dari shalat Shubuh hingga terbit matahari terbit.
  • Dari matahari terbit hingga matahari meninggi (kira-kira 15 menit setelah matahari terbit).
  • Ketika matahari di atas kepala tidak condong ke timur atau ke barat hingga matahari tergelincir ke barat.
  • Dari shalat Ashar hingga mulai tenggelam.
  • Dari matahari mulai tenggelam hingga tenggelam sempurna. (Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 2: 205)

 

Baca selengkapnya tentang waktu terlarang shalat:

Baca juga artikel tentang dua tanduk setan:

 

 

Apakah benar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan shalat sunnah ba’diyah ‘Ashar?

Para ulama yang duduk di Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) pernah ditanya tentang hadits-hadits yang menunjukkan adanya shalat ba’diyah ‘Ashar, mereka lantas menjawab,

“Tidak boleh shalat sunnah setelah ‘Ashar karena ketika itu waktu terlarang untuk shalat. Adapun yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits yang disebutkan adalah untuk mengqadha shalat rawatib Zhuhur yang luput dikerjakan. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya terus menerus dikarenakan jika beliau telah melakukan suatu amalan, maka beliau akan merutinkannya, ini adalah kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi masih boleh melakukan shalat yang punya sebab setelah ‘Ashar, seperti shalat tahiyatul masjid, shalat kusuf (gerhana), shalat dua raka’at thawaf setelah ‘Ashar maupun setelah Shubuh, juga shalat jenazah karena ada hadits tentang hal ini.” (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, pertanyaan pertama dari fatwa no. 19518, 6: 174. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku wakil ketua dan Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota)

Berarti shalat sunnah setelah ‘Ashar asalnya tidak ada karena masih waktu terlarang untuk shalat, kecuali tiga sebab:

  • Khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Mengqadha’ shalat sunnah rawatib Zhuhur.
  • Mengerjakan shalat sunnah yang punya sebab seperti shalat tahiyatul masjid dan shalat sunnah wudhu.

 

Baca artikel selengkapnya di sini:

 

26- Mempersiapkan makanan buka puasa untuk orang-orang yang akan berbuka di masjid-masjid terdekat. Atau bisa menjadi panitia pengurusan buka puasa di masjid.

Keutamaan turut serta dalam memberi buka puasa sebagai berikut.

a- Memberi makan buka puasa akan mendapatkan pahala dari orang yang berpuasa

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

b- Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga.

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Lihatlah bagaimana keutamaan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang menggabungkan antara memberi makan dengan amalan lainnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?” Abu Bakar berkata, “Saya.”

Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?” Maka Abu Bakar berkata, “Saya.”

Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.”

Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” (HR. Muslim, no. 1028).

c- Menggabungkan shalat, puasa dan sedekah dapat mengantarkan pada ridha Allah.

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah karenanya menyatakan, “Puasa, shalat dan sedekah mengantarkan orang yang mengamalkannya pada Allah. Sebagian salaf sampai berkata, ‘Shalat mengantarkan seseorang pada separuh jalan. Puasa mengantarkannya pada pintu raja. Sedekah nantinya akan mengambilnya dan mengantarnya pada raja.’“ (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298)

 

Selengkapnya baca 8 Keutamaan Memberi Buka Puasa di sini:

 

Semoga bermanfaat dan bisa diamalkan.

@ DS Panggang, Gunungkidul, 23 Sya’ban 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal